Angin dan Sepucuk Harapan

  Angin dan Sepucuk Harapan Ada yang kutitipkan pada angin, sepucuk harapan yang rapuh, kuselip di antara hembusnya agar sampai ke langit atau mungkin ke hatimu. Aku tak pandai berkata lantang, maka biarlah angin yang berbisik tentang rinduku yang diam-diam tumbuh, tentang doaku yang selalu utuh meski jarak terus bertambah jauh. Di setiap tiupannya, kutitip salam pada semesta, barangkali nanti, kau menangkapnya di sela sunyi, dan ingat bahwa ada yang menunggumu dengan sabar seperti dedaunan menunggu hujan. Jika angin itu sampai padamu, bacalah perlahan, sebab di setiap desahnya ada aku, dan sepucuk harapan yang tak pernah selesai kugenggam.

Doa dalam Diam

 

Doa dalam Diam

Aku mencintaimu dalam senyap
Di antara hembusan angin yang tak menyampaikan salam
Dalam detik yang berlalu tanpa sapa
Seperti langit menunggu hujan yang tak juga tiba

Aku memilih diam
Bukan karena tak berani berkata
Tapi karena takut kata-kata justru melukai
Atau semesta tak merestui

Aku mencintaimu dalam doa
Setiap malam saat semua sunyi
Kupintakan namamu tanpa perlu kau tahu
Agar bahagiaku cukup melihat senyummu

Tak mengapa jika hatiku tetap sendiri
Asal kau tetap baik di sana,
Dengan siapa pun takdir menemani

Aku bahagia dalam diam yang setia

Jika kelak kau tak pernah tahu

Biarlah Tuhan saja yang tahu

Bahwa ada hati yang mencintaimu
Tanpa pernah meminta untuk dicintai Kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Angin dan Sepucuk Harapan

Aku, Kamu, dan Waktu yang Hilang