Angin dan Sepucuk Harapan

 

Angin dan Sepucuk Harapan

Ada yang kutitipkan pada angin,
sepucuk harapan yang rapuh,
kuselip di antara hembusnya
agar sampai ke langit
atau mungkin ke hatimu.

Aku tak pandai berkata lantang,
maka biarlah angin yang berbisik
tentang rinduku yang diam-diam tumbuh,
tentang doaku yang selalu utuh
meski jarak terus bertambah jauh.

Di setiap tiupannya,
kutitip salam pada semesta,
barangkali nanti,
kau menangkapnya di sela sunyi,
dan ingat bahwa ada yang menunggumu
dengan sabar
seperti dedaunan menunggu hujan.

Jika angin itu sampai padamu,
bacalah perlahan,
sebab di setiap desahnya
ada aku,
dan sepucuk harapan
yang tak pernah selesai kugenggam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, Kamu, dan Waktu yang Hilang

Doa dalam Diam