Angin dan Sepucuk Harapan

  Angin dan Sepucuk Harapan Ada yang kutitipkan pada angin, sepucuk harapan yang rapuh, kuselip di antara hembusnya agar sampai ke langit atau mungkin ke hatimu. Aku tak pandai berkata lantang, maka biarlah angin yang berbisik tentang rinduku yang diam-diam tumbuh, tentang doaku yang selalu utuh meski jarak terus bertambah jauh. Di setiap tiupannya, kutitip salam pada semesta, barangkali nanti, kau menangkapnya di sela sunyi, dan ingat bahwa ada yang menunggumu dengan sabar seperti dedaunan menunggu hujan. Jika angin itu sampai padamu, bacalah perlahan, sebab di setiap desahnya ada aku, dan sepucuk harapan yang tak pernah selesai kugenggam.

Aku, Kamu, dan Waktu yang Hilang

 

Aku, Kamu, dan Waktu yang Hilang

Kita pernah berjalan sejajar,
menghitung detik tanpa sadar,
lalu waktu, seperti pencuri,
mengambilmu pergi
dan meninggalkanku sendiri.

Aku mencari dalam diam,
kau menjauh dalam lupa.

Kini hanya ada kenangan
yang mengendap di antara jeda,
antara aku, kamu,
dan waktu
yang tak bisa kita pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Angin dan Sepucuk Harapan

Doa dalam Diam